Senin, 14 Maret 2011

At Tauhid edisi VI/50
Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Alhamdullillahilladzi hamdan katsiron thoyyiban mubaarokan fiih kamaa yuhibbu Robbunaa wa yardho. Allahumma sholli ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam.

Berikut adalah beberapa penjelasan mengenai berbagai adab menuju masjid ketika menghadiri shalat jama’ah dan amalan apa saja yang dilakukan sebelum shalat. Semoga bermanfaat.

Tinggalkanlah Berbagai Aktivitas Ketika Datang Panggilan Shalat

Dari Al Aswad, dia berkata bahwa dia menanyakan pada ‘Aisyah mengenai apa saja yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumahnya? ‘Aisyah menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membantu pekerjaan keluarganya, ketika ada panggilan shalat jama’ah, beliau bergegas pergi menunaikan shalat.” (HR. Bukhari)

Bergegaslah Mendatangi Masjid dan Berusaha Untuk Datang Lebih Awal

Kenapa demikian? Yaitu agar seseorang memperoleh shaf pertama dan agar mendapatkan pahala karena menunggu shalat.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya setiap orang tahu keutamaan adzan dan shaf pertama, kemudian mereka ingin memperebutkannya, tentu mereka akan memperebutkannya dengan berundi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik shaf bagi laki-laki adalah shaf pertama, sedangkan yang paling jelek bagi laki-laki adalah shaf terakhir. Sebaik-baik shaf bagi wanita adalah shaf terakhir, sedangkan yang paling jelek bagi wanita adalah shaf pertama.” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seseorang memasuki masjid, dia berarti dalam keadaan shalat selama dia menunggu shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Usahakan Berwudhu (Bersuci) di Rumah

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian dia berjalan menuju salah satu rumah Allah untuk menunaikan kewajiban yang Allah wajibkan, maka satu langkah kakinya akan menghapuskan kesalahan dan langkah kaki lainnya akan meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim)

Menuju Masjid dengan Berjalan Kaki

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap langkah berjalan untuk menunaikan shalat adalah sedekah.” (HR. Muslim no. 2382)

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap langkah menuju tempat shalat akan dicatat sebagai kebaikan dan akan menghapus kejelekan.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shohih)

Apakah perlu memperpendek langkah kaki?

Ada sebagian ulama yang menganjurkan bahwa setiap orang yang hendak ke masjid hendaknya memperpendek langkah kakinya. Akan tetapi, ini adalah anjuran yang bukan pada tempatnya dan tidak ada dalilnya sama sekali. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits hanya mengatakan ‘setiap langkah kaki menuju shalat dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan ‘hendaklah setiap orang memperpendek langkahnya.’ Seandainya perbuatan ini adalah perkara yang disyari’atkan, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menganjurkannya kepada kita. Yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah bukan memanjangkan atau memendekkan langkah, namun yang dimaksudkan adalah berjalan seperti kebiasaannya. (Lihat Syarh Al Arba’in An Nawawiyah, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin pada penjelasan hadits no. 26)

Haruslah Tenang, Tidak Perlu Tergesa-gesa Menuju Masjid

Abu Qotadah mengatakan, “Tatkala kami menunaikan shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu terdengar suara beberapa orang yang tergesa-gesa. Kemudian setelah selesai shalat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Ada apa dengan kalian tadi?” Orang-orang yang tadi tergesa-gesa pun menjawab, “Kami tadi tergesa-gesa untuk shalat.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, “Janganlah kalian lakukan seperti itu. Jika kalian mendatangi shalat, bersikap tenanglah. Jika kalian mendapati imam shalat, maka ikutilah. Sedangkan apa yang luput dari kalian, sempurnakanlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian mendengar adzan, berjalanlah menuju shalat, bersikap tenang dan khusyu’lah, janganlah tergesa-gesa. Jika kalian mendapati imam shalat, maka shalatlah. Sedangkan apa yang luput dari kalian, sempurnakanlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bacalah Dzikir Ketika Berjalan Ke Masjid dan Ketika Masuk Masjid

Ketika keluar rumah, hendaklah setiap muslim membaca do’a: Bismillahi tawakkaltu ‘alallah laa hawla wa laa quwwata illa billah (Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya).

Dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seseorang keluar dari rumah, lalu dia mengucapkan “Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, laa hawla wa laa quwwata illa billah” (Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya), maka dikatakan ketika itu: “Engkau akan diberi petunjuk, dicukupkan, dijaga, dan setan pun akan menyingkir darinya”. Setan yang lain akan mengatakan: “Bagaimana mungkin engkau bisa mengganggu seseorang yang telah mendapatkan petunjuk, kecukupan dan penjagaan?!” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Kemudian ketika perjalanan menuju masjid, hendaklah membaca do’a: “Allahummaj’al fii qolbiy nuuron wa fii lisaaniy nuuron waj’al fi sam’iy nuuron waj’al fii bashoriy nuuron waj’al min kholfiy nuuron wa min amamaamiy nuuron, waj’al min fawqiy nuuron wa min tahtii nuuron. Allahumma a’thiniy nuuron. [Ya Allah, berikanlah cahaya di hatiku, pendengaranku, penglihatanku, di belakangku, di hadapanku, di atasku dan di bawahku. Ya Allah berikanlah aku cahaya]” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika masuk masjid, ucapkanlah do’a: Allahummaftah lii abwaaba rohmatik (Ya Allah, bukakanlah padaku pintu rahmat-Mu).

Dari Abu Usaid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian memasuki masjid, ucapkanlah: Allahummaftah lii abwaaba rohmatik (Ya Allah, bukakanlah padaku pintu rahmat-Mu). Dan jika keluar dari masjid, ucapkanlah: Allahummaftah lii abwaaba min fadhlik (Ya Allah, bukakanlah padaku pintu kemuliaan-Mu).” (HR. Muslim)

Janganlah Menyela-nyela Jari-Jemari

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian berwudhu di rumahnya, kemudian mendatangi masjid, maka dia sudah teranggap berada dalam shalat sampai dia kembali. Oleh karena itu janganlah lakukan seperti ini: Menyela-nyela jari-jemari.” (HR. Hakim. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Kerjakanlah Shalat Tahiyyatul Masjid, Jangan Langsung Duduk

Dari Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian memasuki masjid, maka janganlah dia duduk sampai dia mengerjakan shalat sunnah dua raka’at (shalat sunnah tahiyatul masjid).” (HR. Bukhari)

Janganlah Mengerjakan Shalat Sunnah Ketika Iqomah

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila dikumandangkan iqomah, maka tidak ada shalat lagi selain shalat wajib.” (HR. Muslim)

Jangan Keluar dari Masjid Setelah Adzan

Abdurrahman bin Harmalah mengatakan, ”Seorang laki-laki datang menemui Sa’id bin Al Musayyib untuk menitipkan sesuatu karena mau berangkat haji dan umroh. Lalu Sa’id mengatakan kepadanya, ”Janganlah pergi, hendaklah kamu shalat terlebih dahulu karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah keluar dari masjid setelah adzan kecuali orang munafik atau orang yang ada keperluan dan ingin kembali lagi ke masjid.

Lalu orang ini mengatakan, ”(Tetapi) teman-temanku sedang menunggu di Al Harroh.” Lalu dia keluar (dari masjid). Belum lagi Sa’id menyayangkan kepergiannya, tiba-tiba dikabarkan orang ini telah jatuh dari kendaraanya sehingga pahanya patah.”

Hadits ini terdapat dalam Sunan Ad Darimi pada Bab ‘Disegerakannya hukuman di dunia bagi orang yang meremehkan perkataan Nabi dan tidak mengagungkannya’. Husain Salim Asad mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.

Jangan Berdiri Ketika Iqomah Sampai Imam Berdiri

Dari Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika iqomah sudah dikumandangkan, maka janganlah kalian berdiri sampai kalian melihatku berdiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. [Muhammad Abduh Tuasikal]

http://buletin.muslim.or.id
Ciri-ciri wanita sholeh. Tidak banyak syarat yang dikenakan oleh Islam untuk seseorang wanita untuk menerima gelar solehah, dan seterusnya menerima pahala syurga yang penuh kenikmatan dari Allah Subhanahuwata’ala

Mereka hanya perlu memenuhi 2 syarat saja yaitu:
  1. Taat kepada Allah dan RasulNya
  2. Taat kepada suami
Berikut ini antara lain perincian dari dua syarat di atas:


1. Taat kepada Allah dan RasulNya
Bagaimana yang dikatakan taat kepada Allah?
  • Mencintai Allah s.w.t. dan Rasulullah s.a.w. melebihi dari segala-galanya.
  • Wajib menutup aurat
  • Tidak berhias dan berperangai seperti wanita jahiliah
  • Tidak bermusafir atau bersama dengan lelaki dewasa kecuali ada bersamanya
  • Sering membantu lelaki dalam perkara kebenaran, kebajikan dan taqwa
  • Berbuat baik kepada ibu & bapa
  • Sentiasa bersedekah baik dalam keadaan susah ataupun senang
  • Tidak berkhalwat dengan lelaki dewasa
  • Bersikap baik terhadap tetangga

2. Taat kepada suami
  • Memelihara kewajipan terhadap suami
  • Sentiasa menyenangkan suami
  • Menjaga kehormatan diri dan harta suaminya selama suami tiada di rumah.
  • Tidak cemberut di hadapan suami.
  • Tidak menolak ajakan suami untuk tidur
  • Tidak keluar tanpa izin suami.
  • Tidak meninggikan suara melebihi suara suami
  • Tidak membantah suaminya dalam kebenaran
  • Tidak menerima tamu yang dibenci suaminya.
  • Sentiasa memelihara diri, kebersihan fisik & kecantikannya serta rumah tangga

Sumber:
http://wanita.wordpress.com/2007/11/03/ciri-ciri-wanita-sholehah/
Imam Ath-Thabrany mengisahkan dalam sebuah hadist, dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, dia berkata:
  • Saya berkata,‘Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepadaku firman Allah tentang bidadari-bidadari yang bermata jeli’.”
  • Beliau menjawab, “Bidadari yang kulitnya putih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilai seperti sayap burung nasar.”
  • Saya berkata lagi, “Jelaskan kepadaku tentang firman Allah, ‘Laksana mutiara yang tersimpan baik’.” (Al-waqi’ah : 23)
  • Beliau menjawab, “Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tidak pernah tersentuh tangan manusia.
  • Saya berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik’.” (Ar-Rahman : 70)
  • Beliau menjawab, “Akhlaknya baik dan wajahnya cantik jelita”
  • Saya berkata lagi, Jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Seakan-akan mereka adalah telur (burung onta) yang tersimpan dengan baik’.” (Ash-Shaffat : 49)
  • Beliau menjawab, “Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada di bagian dalam telur dan terlindung kulit telur bagian luar, atau yang biasa disebut putih telur.”
  • Saya berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Penuh cinta lagi sebaya umurnya’.” (Al-Waqi’ah : 37)
  • Beliau menjawab, “Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal di dunia pada usia lanjut, dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Dia menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh cinta, bergairah, mengasihi dan umurnya sebaya.”
  • Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?”
  • Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.”
  • Saya bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?”
  • Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.’.”
  • Saya berkata, “Wahai Rasulullah, salah seorang wanita di antara kami pernah menikah dengan dua, tiga, atau empat laki-laki lalu meninggal dunia. Dia masuk surga dan mereka pun masuk surga pula. Siapakah di antara laki-laki itu yang akan menjadi suaminya di surga?”
  • Beliau menjawab, “Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, lalu dia pun memilih siapa di antara mereka yang akhlaknya paling bagus, lalu dia berkata, ‘Wahai Rabb-ku, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik akhlaknya tatkala hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya’. Wahai Ummu Salamah, akhlak yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat.”
Sungguh indah perkataan Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam yang menggambarkan tentang bidadari bermata jeli. Namun betapa lebih indah lagi dikala beliau mengatakan bahwa wanita dunia yang taat kepada Allah lebih utama dibandingkan seorang bidadari. Ya, bidadari saudaraku.

Sungguh betapa mulianya seorang muslimah yang kaffah diin islamnya. Mereka yang senantiasa menjaga ibadah dan akhlaknya, senantiasa menjaga keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah. Sungguh, betapa indah gambaran Allah kepada wanita shalehah, yang menjaga kehormatan diri dan suaminya. Yang tatkala cobaan dan ujian menimpa, hanya kesabaran dan keikhlasan yang ia tunjukkan. Di saat gemerlap dunia kian dahsyat menerpa, ia tetap teguh mempertahankan keimanannya.

Sebaik-baik perhiasan ialah wanita salehah. Dan wanita salehah adalah mereka yang menerapkan islam secara menyeluruh di dalam dirinya, sehingga kelak ia menjadi penyejuk mata bagi orang-orang di sekitarnya. Senantiasa merasakan kebaikan di manapun ia berada. Bahkan seorang “Aidh Al-Qarni menggambarkan wanita sebagai batu-batu indah seperti zamrud, berlian, intan, permata, dan sebagainya di dalam bukunya yang berjudul “Menjadi wanita paling bahagia”.

Subhanallah. Tak ada kemuliaan lain ketika Allah menyebutkan di dalam al-quran surat an-nisa ayat 34, bahwa wanita salehah adalah yang tunduk kepada Allah dan menaati suaminya, yang sangat menjaga di saat ia tak hadir sebagaimana yang diajarkan oleh Allah.

Dan bidadari pun cemburu kepada mereka karena keimanan dan kemuliaannya. Bagaimana caranya agar menjadi wanita salehah? Tentu saja dengan melakukan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala laranganNya. Senantiasa meningkatkan kualitas diri dan menularkannya kepada orang lain. Wanita dunia yang salehah kelak akan menjadi bidadari-bidadari surga yang begitu indah.

Ciri-ciri Laki-laki Yang Sholeh, yaitu Laki-laki yang:
  • Senantiasa taat kepada Allah swt dan Rasullulah saw.
  • Jihad Fisabilillah adalah tujuan hidupnya.
  • Mati syahid adalah cita cita hidup yang tertinggi.
  • Sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah swt.
  • Ikhlas dalam beramal.
  • Kampung akhirat maejadi tujuan utama hidupnya.
  • Sangat takut kepada ujian Allah swt. dan ancamannya.
  • Selalu memohon ampun atas segala dosa-dosanya.
  • Zuhud dengan dunia tetapi tidak meninggalkannya.
  • Sholat malam menjadi kebiasaannya.
  • Tawakal penuh kepada Allah taala dan tidak mengeluh kecuali kepada Allah swt
  • Selalu berinfaq dalam keadaan lapang maupun sempit.
  • Menerapkan nilai kasih sayang sesama mukmin dan ukhwah diantara mereka.
  • Sangat kuat amar maaruf dan nahi munkarnya.
  • Sangat kuat memegang amanah, janji dan kerahasiaan.
  • Pemaaf dan lapang dada dalam menghadapi kebodohan manusia, senantiasa saling koreksi sesama ikhwan dan tawadhu penuh kepada Allah swt.
  • Kasih sayang dan penuh pengertian kepada keluarga.

Sumber:
http://bayuzu.blogspot.com/2010/10/wanita-sholehah-bidadari-surga-terindah.html

Rabu, 19 Januari 2011

Rabu, tanggal 12 Januari 2011 .... tidak ada hujan atau angin kami korps GTT/PTT di kantor kami tercinta dikumpulkan untuk rapat dengar pendapat (intelek amat....bahasa apaan itu) ama pimpinan, bahwa intinya gaji kami akan disunat abis....eh nggak ding.... cuma setigaan ataw jumlah agak banyak bagi kami orang kismis.
Dengan dalih peraturan dan aturan yang udah disepakati kami terima aja keputusan tersebut, .....dengan hati gondok tentunya dan doa yang ndak karuan. Dari yang paling tuaan umurnya di sekolah sampe yang baru kemaren sore bekerja disama ratakan aja jumlah uang yang harus kami sumbangkan lagi kepada nyang kasih tentunya.
Duh...hik...hik...hua...hua...apalagi ya? Mau ngamuk kita masih sehat akalnya, mau teriak eman-eman tenaganya, mau mogok gimana..... kadung kecebur basah sekalian ..... udah terlanjur basah sekalian. Kacian..deh guuuuue, gitu loch!!!!!!!!!!!!
Gimana nih langkah selanjutnya!!!!!!!! Live must go on, the show will begin.
Ibarat sepeda oli tidak ada ibarat mobil bensin mepet mau jalan cepet juga takut macet en patah semua. Temen seruangan tadi pagi usah ngeluh kalau berat badan udah kurang, itu baru seminggu gimana sebulan kedepan, sebenarnya aku juga mau nangis aja bawaannya kalau ngingat kita semua, udah tenaganya dimanfaatin seperti biasa malah lebih ngeri lagi jam kerja tambah, kayak temen-nyang dobel gajinya yang cuma kerjaannya ngeluh-ngeluh terus, kurang ini kurang itu pegel sana-pegel sini karena terlalu banyak tengadah.....jawanya ndangak terus ndase, mbok yao lihat kami-kami ini, tunduk kepala dikit napa.... biar banyak syukurnya.
Mereka yang kami harapkan bisa memperjuangkan nasib kami ternyata mentalnya tempe, mikir udel sendiri-sendiri tidak berani bersuara yang bersuara cuma silit alias kentut doang ndak ada respon, udah mati rasa kali...ya moga-moga stok oksigennya masih banyak ya....biar dapat keluar tenaga dan suaranya.
Ya...Allah tunjukkanlah kami jalan dan kesabaran agar dapat senantiasa ikhlas menghadapi semua ini. Tapi ikhlas itu suuuuuuuuuuuuuuuuuliiiiiiiitttttttttttttt banget, ya! Dadanya rasanya sesak......ya Allah lapangkanlah dada kami. Lindungilah keluarga kami dari segala kedzaliman.

Jumat, 24 September 2010

Perpustakaan, Buku, dan Minat Baca
Oleh:
Deny Riana

Konon, Julius Caesar, raja Roma, pernah menyerang ke Mesir. Namun, ternyata Mesir memiliki tentara yang amat kuat. Saking kuatnya, dia pun beserta pasukannya terjepit. Dalam keadaan terjepit itulah, Julius Caesar memiliki ide untuk menghindari musuh, yaitu dengan cara membakar perpustakaan besar Mesir yang bernama Alexandria. Berhasilkah dia?
Ya, ternyata Caesar berhasil meloloskan diri dari kepungan tentara Mesir. Rupanya dia tahu betul, bahwa orang-orang Mesir sangat menghargai perpustakaannya.
Dari cerita di atas, tersirat bahwa perpustakaan yang berisi sekumpulan buku yang disusun secara sistematis (pada waktu itu berupa papyrus) merupakan sesuatu yang sangat berharga. Bahkan harganya jauh lebih tinggi dari seorang raja Roma sehingga mereka rela meloloskan musuhnya demi untuk menyelamatkan perpustakaan yang terbakar.
Mereka sadar, melalui perpustakaan, pengetahuan yang mereka peroleh dapat diwariskan ke generasi berikutnya dan digunakan sebagai jembatan perantara dalam meningkatkan terus peradabannya ke tingkat yang lebih tinggi.
Ketika kita berbicara tentang perpustakaan, tentu tidak akan lepas dari isinya, yakni buku (pada umumnya). Secara fungsional, buku merupakan alat komunikasi tulisan yang dirakit dalam satu satuan atau lebih agar pemaparannya sistematis, sehingga isi maupun perangkat kerasnya bisa lestari. Segi pelestarian inilah yang membedakan buku dari alat komunikasi tulisan lain yang lebih pendek umurnya
Melalui buku, seluruh hasil cipta, karsa, dan karya manusia dapat dilestarikan. Dari buku pula peradaban manusia berkembang. Di dalam buku tersimpan rekaman-rekaman teori yang bisa melahirkan suatu teori baru
Bukankah setiap penemuan suatu teori baru selalu dilandasi oleh teori sebelumnya? Sebagaimana yang diakui oleh ilmuwan ahli Issac Newton. Ilmuwan besar ini pernah berkata, "Jika saya mampu melihat jauh, maka hal itu disebabkan karena saya berdiri di pundak para jenius terdahulu"
Dalam perkembangan peradaban manusia, buku memang memiliki kekuatan yang dahsyat. Kendati demikian, kedahsyatan buku tentu tidak akan ada apa-apanya jika benda tersebut hanya dipajang, tidak pernah disentuh dan dibaca. Dan tampaknya, inilah masalah kita saat ini.
Meskipun persentase penduduk buta aksara setiap tahun cenderung menurun, namun menurut data terakhir (tahun 2002), diketahui masih ada 18,7 juta penduduk Indonesia usia 10 tahun ke atas yang buta huruf. Hal ini masih diperparah dengan kenyataan, bahwa setiap tahun ada 250-300 ribu siswa kelas 1, 2, dan 3 SD yang putus sekolah.
Sementara itu, pada tahun 2000 organisasi International Educational Achievement (IEA) menempatkan kemampuan membaca siswa SD Indonesia di urutan ke-38 dari 39 negara. Atau terendah di antara negara-negara ASEAN. Dengan kondisi seperti itu, maka tak heran bila kualitas pendidikan di Indonesia juga buruk. Dalam hal pendidikan, survei The Political and Economic Risk Country (PERC), sebuah lembaga konsultan di Singapura, pada akhir 2001, menempatkan Indonesia di urutan ke-12 dari 12 negara di Asia yang diteliti.
Tampaknya, dalam soal penyediaan buku dan pengembangan minat baca, Indonesia masih mengalami beberapa kendala. Pertama, jumlah penerbitan buku di Indonesia masih timpang dibandingkan dengan jumlah penduduk. Dalam setahun, penerbitan buku di seluruh dunia mencapai satu juta judul buku. Tetapi untuk Indonesia, paling tinggi hanya mampu mencapai sekitar lima judul.
Berdasarkan data dari Intenational Publisher Association Kanada, produksi perbukuan paling tinggi ditunjukkan oleh Inggris, yaitu mencapai rata-rata 100 ribu judul buku per tahun. Tahun 2000 saja sebanyak 110.155 judul buku.
Posisi kedua ditempati Jerman dengan jumlah judul buku yang diterbitkan pada tahun 2000 mencapai 80.779 judul, Jepang sebanyak 65.430 judul buku. Sementara itu, Amerika Serikat menempati urutan keempat. Indonesia pada tahun 1997 pernah menghasilkan lima ribuan judul buku. Tetapi, tahun 2002 tercatat hanya 2.700-an judul. Sangat jauh apabila dibandingkan dengan produksi penerbitan buku tingkat dunia.
Kedua, minimnya jumlah perpustakaan yang kondisinya memadai. Menurut data dari Deputi Pengembangan Perpustakaan Nasional RI (PNRI) dari sekitar 300.000 SD hingga SLTA, baru 5% yang memiliki perpustakaan. Bahkan diduga hanya 1% dari 260.000 SD yang mempunyai perpustakaan. Juga baru sekitar 20% dari 66.000 desa/kelurahan yang memiliki perpustakaan memadai (Kompas, 25/7/02).
Membaca merupakan kegiatan dan kemampuan khas manusia. Walaupun demikian, kemampuan membaca tidak terjadi secara otomatis karena harus didahului oleh aktivitas dan kebiasaan membaca yang merupakan wujud dari adanya minat membaca.
Ketakpedulian kita akan aktivitas membaca boleh jadi akibat dari kondisi masyarakat kita yang pergerakannya melompat dari keadaan praliterer ke dalam masa pascaliterer, tanpa melalui masa literer. Artinya dari kondisi masyarakat yang tidak pernah membaca akibat tidak terbiasa dengan budaya menulis (terbiasa dengan budaya lisan) ke dalam bentuk masyarakat yang tidak hendak membaca seiring masuknya teknologi telekomunikasi, informatika, dan broadcasting. Akibatnya, masyarakat kita lebih senang nonton televisi daripada membaca.
Kondisi ini diperburuk dengan semakin tidak pedulinya orang tua akan aktivitas membaca. Semakin banyak keluarga yang kedua orang tuanya sibuk bekerja sehingga mereka tidak lagi mempunyai cukup waktu dan energi untuk mendekatkan anaknya dengan buku, lewat mendongeng misalnya. Ironisnya ketika anak mulai masuk sekolah, materi baku kurikulum sering membuat guru tidak mempunyai ruang gerak untuk berkreasi. Akhirnya mereka hanya terpaku pada satu buku wajib.
Seperti halnya kegiatan pembelajaran yang lain, upaya menumbuhkan minat baca juga akan lebih mudah dan efektif apabila dilakukan sejak dini, sejak kanak-kanak. Ini artinya orang tua sangat dituntut keikutsertaannya. Orang tua harus memastikan bahwa kecintaan akan membaca adalah tujuan pendidikan yang terpenting bagi anaknya.
Tentu saja, upaya orang tua akan lebih optimal apabila didukung oleh pihak lain. Dari pihak penerbit buku misalnya, dari segi kualitas perwajahan, ilustrasi, isi, dan cara penyajian hendaknya dapat terus diperbaiki. Hal ini ditujukan untuk meningkatkan ketertarikan anak.
Dari pihak sekolah, hendaknya diterapkan sistem pendidikan yang menimbulkan kegairahan belajar. Misalnya dengan mendorong pendidik untuk memberi penugasan dan anak didik mencari jawabannya, antara lain di perpustakaan. Hingga sejauh ini perpustakaan belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai sumber ilmu pengetahuan.
Oleh karena itu, masih diperlukan usaha keras untuk mendorong anak berkenalan dengan perpustakaan sejak dini. Bahkan, perkenalan pertama anak dengan perpustakaan dapat dilakukan di rumah melalui pembuatan perpustakaan keluarga. Anak yang terbiasa melihat buku dan kebiasaan membaca dari orang tuanya akan membuat mereka gemar membaca.
Dari pihak media massa (terutama radio/TV) hendaknya tidak saja mengeluarkan iklan layanan masyarakat mengenai ajakan membaca, tetapi harus juga mulai membuat program promosi membaca (reading promition). Sebuah program yang berkaitan dengan sebuah buku tertentu.
Barangkali, itulah usaha yang dapat dilakukan untuk mempersiapkan generasi bangsa ini dalam menghadapi masa depan yang penuh persaingan. Ibarat kata pepatah, "Akan lebih mudah meluruskan batang pohon ketika ia masih kecil daripada meluruskannya setelah tumbuh menjadi besar." Wallahu a'lam.

Selasa, 20 Juli 2010

“Kalau nanti gituan jangan ngariel,” kata seorang kawan saya. Istilah ngariel yang jelas tidak baku secara bahasawi ini kurang lebih bermakna merekam adegan senggama dari sudut pandang orang pertama. Singkatnya, video porno berdikari.

Ketika sudah sampai ranah seksual, bangsa ini paling gemar angkat bicara. Tidak terkecuali ketika adegan yang melibatkan tiga serangkai Ariel, Luna, dan Tari merebak. Tabu. Tidak sesuai budaya bangsa. Memalukan. Kata mereka. Ini bukan tulisan soal Ariel. Ini tulisan soal kita sebagai bangsa yang sebelumnya tidak pernah malu-malu mengekspos kemaluan.

Kultur Indonesia

Kaisar Romawi membangun toilet umum berukuran raksasa di jantung kota. Di sanalah penduduk Romawi terbiasa jongkok buang air besar rame-rame di ruang terbuka. Ya. Mereka melakukannya sambil ngobrol seakan-akan itu adalah hal yang alami. Ralat. Karena hal itu memang alami.

Namun entah sejak kapan manusia mulai menyerukan nilai-nilai moral yang berbeda. Yang mana kini kita semua juga manut : ketelanjangan itu kotor, seksualitas itu tabu, dan hasrat seksual itu berbahaya. Segala sesuatu yang membangkitkan hasrat seks harus diberantas.

Bicara hikayat seks, penduduk nusantara ini dahulu bukanlah bangsa yang malu-malu bicara soal persetubuhan dan ketelanjangan. Katakanlah Candi Sukuh yang sohor itu, empat puluh kilometer dari kota kelahiran saya, kerap dilabeli sebagai candi porno. Mengapa? Sebab setiap elemen candi tersebut secara frontal memamerkan ketelanjangan dan persetubuhan. Seksualitas publik.

Jangan heran apabila ketika melangkah masuk kita disambut dengan relief yang menggambarkan sosok pria dan wanita yang sedang bermasturbasi, arca penis setinggi satu meter yang senantiasa ereksi selama enam abad, dan pahatan sepasang penis dan vagina yang serba blak-blakan.

Adakah itikad jorok di sana? Tentu saja tidak. Candi tersebut pada hakekatnya adalah altar ibadah yang disucikan. Seksualitas ditanggapi sebagai suatu hal yang lumrah. Sekali lagi, karena hal itu sebenarnya memang lumrah.

Candi Sukuh bukanlah perkecualian. Di Jawa Timur juga ada Candi Panataran yang menampilkan relief adegan-adegan mesra persetubuhan antara Panji dengan Candrakirana. Keduanya hanyalah contoh dari sekian banyak peninggalan erotisme nusantara. Intinya, seksualitas bukanlah sesuatu yang tabu untuk dipertontonkan di ruang publik pada saat itu.

Erotisme mendarah daging di nusantara, bukan semata peninggalan Hindu dan Buddha. Di bawah pemerintahan Susuhunan Pakubuwono V, sejumlah pujangga mengarang kitab legendaris berjudul Suluk Tambangraras Amongraga atau Serat Centhini, di antaranya Raden Ngabehi Ranggawarsita yang masyhur dan Kyai Haji Muhammad Ilhar.

Serat Centhini adalah Kamasutra versi Indonesia.

Isinya sama sekali tak ditutup-tutupi. Mulai dari panduan agar wanita mencapai orgasme, titik-titik sensitif pada tubuh wanita, cara pria mencegah ejakulasi dini, dan berbagai gaya senggama. Tidak tersirat sama sekali rasa malu, apalagi pandangan seksualitas sebagai ihwal yang kotor.

Zaman Victoria

Ketika bangsa-bangsa Timur sudah mampu menyikapi seksualitas secara dewasa, tidak demikian halnya dengan bangsa-bangsa Barat. Bangsa Britania, misalnya, sempat terkurung oleh pemikiran puritan pada era Victoria : seksualitas adalah tabu dan hasrat seks itu berbahaya. Segala hal yang dianggap mampu membangkitkan hasrat seksual harus ditutupi, bahkan dibasmi.

Saya tidak langsung menghakimi, namun ada kalanya pembatasan ibarat pedang bermata dua.

Kita belajar dari sejarah Victoria. Pada era tersebut, seksualitas menjadi urusan yang diharamkan publik. Bukan lagi urusan pribadi. Ratu Inggris menganggap tubuh wanita sebagai cermin kesucian dan mewajibkan seluruh wanita menutup tubuhnya. Masyarakat dipaksa bernaung di bawah strict moral code yang menggambarkan seksualitas sebagai hal yang tabu.

Akibatnya? Usaha mengatur moral masyarakat ini justru membuat seks menjadi bombastis. Setiap hal yang berbau seks menjadi spektakuler. Masyarakat mengharamkan namun secara manusiawi mereka tentu saja menikmatinya. Ini karena hasrat seksual itu sejatinya adalah alamiah!

Ironisnya, bangsa Indonesia berada di sana sekarang. Kita mundur dua abad.

Saya tidak terkejut ketika melihat masyarakat mencaci-maki Ariel karena tindakannya, sementara mereka tetap menonton videonya. Karena penasaran, katanya. Itulah. Hipokrit. Seksualitas yang seharusnya sesuatu yang alamiah sudah berubah menjadi komoditas yang sensasional. Ini karena masyarakat kita dikekang dan bukan diedukasi.

Saya jadi teringat kepada tulisan Gunawan Muhammad yang mengisahkan kunjungannya ke Arab Saudi. Istri beliau yang berpakaian serba tertutup, bercadar, berjalan melintasi jalanan di Riyadh ketika tiba-tiba dua buah mobil penuh laki-laki mengikutinya dan mengitarinya. Seluruh mata yang ada di mobil itu nyalang memelototi perempuan yang tubuhnya tertutup itu. Ya. Tertutup.

Barangkali hal tersebut bisa menjadi contoh ironi masyarakat puritan.

Tidak ingin saya mengomentari video Ariel dan Luna. Namun melihat reaksi masyarakat kita yang menyedihkan, saya merasa ada yang salah di dalam edukasi bangsa ini. Yang saat ini dibutuhkan oleh bangsa Indonesia bukanlah pengekangan. Segala bentuk pengekangan hanya akan membuat seks menjadi semakin bombastis. Segala hal berbau seks justru akan menjadi sensasi, apalagi di tengah derasnya arus informasi yang hampir mustahil dibendung.

Bangsa ini perlu kembali ke titahnya untuk tidak puritan menyikapi seks. Kita butuh edukasi.


by Wirawan Winarto http://wirawan.blogsome.com

Jalan di depan tempat tinggal saya sedang ditambal. Barangkali ini bagian dari permbenahan jalan berjamaah yang diprakarsai Pemkot Bandung. Alih-alih ditambal setengah demi setengah, jalanan di depan rumah ini diblokir total. Alhasil tiga hari kendaraan saya tidak bisa keluar rumah.

Artinya, saya harus melewatkan hari-hari saya tanpa pergi jauh-jauh. Atau lebih tepatnya berkutat dengan kompiler di dalam kamar. Andai tiada perubahan, saya seharusnya sudah menyelesaikan tugas akhir saya esok pagi. Seminggu kemudian, menyelesaikan bukunya. Dengan terkurungnya saya, semoga saja ada akselerasi yang signifikan di dalam proses pengerjaannya.

Shallow Thoughts

Satu, beberapa orang yang paling menarik, paling menyenangkan, dan paling bahagia yang saya kenal justru tidak tahu apa yang harus mereka lakukan dengan hidup mereka di masa depan.

Dua, filosofi kehidupan mengenal dua jenis batu : batu sandungan dan batu loncatan, yang mana itu tergantung orang yang melihatnya.

Tiga, lakukanlah setidaknya satu hal gila setiap hari.

Empat, banyak orang mengatakan bahwa terorisme yang terjadi akhir-akhir ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan agama. Jangan berharap sanggup menuntaskan suatu masalah, apabila kita sendiri tidak mau mengakui akar permasalahannya.

Lima, segala ide muncul dalam bentuk yang radikal. Dari radikal menjadi progresif, dari progresif menjadi liberal, dari liberal menjadi biasa, dari biasa menjadi konservatif, dari konservatif menjadi klasik, dari klasik menjadi ketinggalan zaman, dan akhirnya lenyap ditinggalkan.

Enam, ada dua metode kalkulasi pola makan : dengan satuan kalori dan dengan satuan rupiah.

Tujuh, saya amat menyukai rancangan kamar dan meja kerja saya yang minimalis. Namun entah kenapa banyak orang yang menganggapnya membosankan. Ya, desain itu subjektif.

Delapan, “Suatu proyek yang terencana dengan baik, akan makan waktu dua kali lebih lama dari rencana semula. Yang tidak terencana dengan baik, tiga kali.” - dosen advisor saya di IT Telkom.

Sembilan, game programmer juga harus bermain game. No excuse.

Sepuluh, dulu saya merasa bahwa, sebagai seorang insinyur atau ilmuwan, adalah unik memakai pakaian kaos santai dan jeans ketika bekerja. Bukan kemeja formal atau jas laboratorium. Namun saya keliru. Ternyata hampir semua insinyur dan ilmuwan memang berpakaian seperti itu.

Nice Ponderings

Sebelas, lagu evergreen paling menarik yang saya dengar apabila dimainkan secara instrumental adalah Rain And Tears (Demis Roussos) dan Rhythm of The Rain (The Cascades). Kedua nyanyian sama-sama berkisah tentang hujan. Kebetulan? Ya.

Dua Belas, dan yang buruk tanpa lirik adalah Tears In Heaven (Eric Clapton).

Tiga Belas, menarik : Selandia Lama terletak di Belanda, 19.000 kilometer dari Selandia Baru.

Empat Belas, hal yang tidak mungkin dikatakan oleh seorang pria pada sebuah pesta : “Ayo kita pulang sekarang. Aku malu. Di dalam sana ada cowok lain yang juga memakai tuxedo yang sama persis dengan yang aku pakai.” Karena kami tidak peduli dengan hal itu. Tidak pernah.

Lima Belas, KFC menghidangkan spaghetti di dalam gelas. Unik. Inovatif. Berselera rendah.

Enam Belas, Cie Rasa Loom, rumah makan Aceh, menjual Soto Betawi. Serius.

Tujuh Belas, jika anda suka berada di tempat terbuka, jangan membeli kacamata murah meriah di Alun-Alun Solo atau jalan ABC Bandung. Di bawah panas matahari, lensanya akan memuai dan ukurannya tidak lagi pas. Abaikan nasehat ini jika toleransi mata anda cukup besar.

Delapan Belas, prinsip backpacker: travel bag tidak akan muat menampung semua barang yang anda inginkan, tapi travel bag pasti muat menampung semua barang yang anda butuhkan.

Sembilan Belas, “People cannot do something themselves, they wanna tell you you cannot do it. If you want something, go get it. Period.” - Christopher Gardner, Pursuit of Happyness

Dua Puluh, ketika mentraktir dinner, keluarkanlah uang dua ratus ribu untuk dua gelas minuman saja. Ingat, dua ratus ribu untuk dua gelas. Bukan dua ember.

by Wirawan Winarto http://wirawan.blogsome.com